Apa itu SaLaFy

Berangkat dari maraknya subhat dan pengertian yang kurang benar dari sebagian kalangan tentang apa itu salafy, baiklah saya mencoba untuk sedikit menanggapi.

Sebelumnya mohon maaf.

Pertama tama saya akan sedikit nukil hadits terkenal tentang iftiroqul ummah yang begitu banyak tersebar di kitab-kitabnya ulama.

Namun baiklah saya nukil 2 saja :

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para shahabat) bertanya : “Siapa dia ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Dia adalah apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya.”

Dan :

“Dan dari Abdullah bin Amr, Rasulullah bersabda : Akan terpecah belah umatku atas tujuh puluh tiga milah (golongan), seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu milah yakni apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” (HR Timidzi).

Pengertian dari hadits ini jelas bahwa umat Islam ini akan terpecah belah menjadi bergolongan- golongan. Yang selamat hanya satu yaitu apa yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya (ahlussunnah wal jamaah).

Siapakah ahlussunnah wal jamaah? Adalah mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Disebut ahlussunnah karena kuatnya mereka berpegang dan berittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi dan para Sahabatnya.

Assunnah menurut etimologi adalah jalan/cara apakah jalan itu baik atau buruk (Lisaanul Arab VI/399)

Sedangkan menurut ulama aqidah (terminologi) Asunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya baik tentang ilmu, I’tiqod (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini merupakan assunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela. (Buhuuts lil Aqidah Ahlissunnah hal 16).

Pengertian Assunnah menurut Ibnu Rajab al Hambali (wafat 795 H), Assunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang kepada apa yang dilaksanakan Nabi dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa I’tiqod (keyakinan), perkataan, dan perbuatan. Itulah Assunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan assunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tadi. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan Al Bashri (wafat 110 H), Imam Al Auza’I (wafat 157 H), dan Imam Fudhail bin Iyadh (wafat 187 H), Jaami’ul Ulum wal Hikam (II/120) oleh Ibnu Rojab, tahqiq Syuaib Al Arnauth dan Ibrahim Baaajis, cet. VIII muassasah ar Risalah th 1419 H.

Disebut Al Jamaah karena mereka bersatu diatas kebenaran, tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan pada imam (yang berpegang kepada) Al Haqq, tidak mau keluar dari jamaah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah (Majmul Ushuul Ahlissunnah Wal jama’ah fil Aqidah)

Ibnu Mas’ud mengatakan : “Al Jamaah adalah mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (AL baaits ‘alaa inkaaril Bida’ wal Hawaadits hal 91-92)

Jadi, ahlussunnah wal jamaah adalah orang-orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam hal agama.

Lalu apakah salafy itu? Ahlussunnah wal Jamaah dikatakan juga Assalafiyuun. karena mereka mengikuti manhaj Salafusholih dari para sahabat dan Tabiut tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka-disepanjang masa-, mereka ini disebut salafy, karena dinisbatkan kepada salaf.

Sedangkan pengertian salaf menurut bahasa adalah yang terdahulu (nenek moyang) yang lebih tua dan lebih utama (lisaanul Arab VI/331.). Sedangkan menurut istilah (terminologi) , salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para sahabat, Tabi’in, Tabiit tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/ masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah sebagaimana sabda Rasulullah :

“Sebaik baik masa adalah pada masaku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabiut tabiin).” (Bukhori 2652, Muslim 2533 (212)), dari sahabat Abdullah bin Mas’ud.

Istilah salaf bukanlah perkara bid’ah karena Rasulullah sudah pernah menyampaikan sebagaimana ucapan beliau kepada Fathimah :

“Bertaqwalah kepada Allah (wahai Fathimah), dan bersabarlah. Dan aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu.” (HR Muslim)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) berkata : “Bukanlah merupakan aib orang yang menampakkan manhaj salaf dan menisbatkan dirinya kepada salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan kesepakatan pada ulama, karena manhaj salaf tidak lain kecuali kebenaran” (Majmuu Fatawa Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah (IV/149).

Dari sini bisa disimpulkan bahwa :

Salaf itu bukanlah golongan atau kelompok seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam beraqidah, beribadah, berhukum, bermuamalah, berakhlak, dan lain sebagainya) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi pengertian salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah dan para sahabat sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan. (Mauqif Ahlissunnah wal Jamaah min Ahlil Ahwaa wal Bida’ (I/63-64).

Mungkin muncul pertanyaan. Klo begitu kok ada salafi A, salafi B, salafi C, dst? Bukankah salafi itu hanya satu?

Pertanyaan yang bagus sekali.

Jawab :

Pernyataan salafy terpecah menjadi salafy A, salafy B, dst itu perlu diperinci apa yang dimaksud dengan A, B, C, dst tersebut. Bisa jadi yang dimaksud adalah Salafy Su’udi, Salafy Yamani, Salafy Yordany, dst. Maka jika memang ini yang dimaksud maka jawabannya :

Pertama : Bahwa penisbatan tersebut hanyalah sebuah penamaan tempat saja. Tentunya kita akan bingung jika di dunia ini terdapat sekian puluh nama tempat, bahkan ratusan atau ribuan nama tempat. Maka akan bermunculan pulalah sekian nama salafy yang dinisbatkan kepada tempat tersebut. Ada salafy Saudi, ada salafy Quwait, ada Salafy Palestina, ada salafy Indonesyy dan sekian ribu salafy lainnya. Apakah dengan demikian berarti salafy itu terpecah menjadi sekian ribu nama tempat tadi? Tentu tidak bukan?

Padahal salafy itu hanya satu sebagaimana definisi yang telah diterangkan diatas. Maka penisbatan terhadap tempat tersebut tidaklah menunjukkan bahwa salafy itu terpecah. Sebagaimana di jaman Rasulullah bahwa kaum muslimin (para sahabat) di waktu itu ada yang berasal dari suku Quroisy, dari suku Aus, dari suku Kazraj, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga yang merupakan Arab Badui yang hidupnya di gunung-gunung. Namun apakah mereka bisa kita katakan berkelompok- kelompok dalam hal manhaj? Tentu jawabannya adalah tidak. Karena mereka adalah berada dalam satu jamaah, yaitu jamaahnya kaum muslimin. Yakni pengikut Rasulullah.

Kedua : Jika yang dimaksud dengan salafy A, salafy B dst itu dinisbatkan kepada tokoh guru-guru atau Imam imam mereka, maka inipun tidak bisa dijadikan hujjah bahwa salafy terpecah belah. Karena selama guru-guru mereka dan diri-diri mereka sendiri itu senantiasa semangat untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah dan menyatakan bahwa tidak ada yang maksum kecuali Rasulullah (bahkan termasuk guru-guru mereka sekalipun tidaklah maksum), dan mereka senantiasa untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah sebagaimana Rasulullah dan para sahabat memahami, maka mereka adalah bersatu di atas satu manhaj. Mereka semua satu yaitu sebagai seorang salafy.

Inilah salah satu prinsip utama manhaj salaf, yakni menyatakan bahwa semua orang bisa salah kecuali Rasulullah. Ust. Abdul Hakim bisa salah, Ust. Yazid bisa salah, Ust. Umar bisa salah, Ust. Sarwat bisa salah, demikian juga dengan ust. Hidayat, ust. Mudhoffar, dll. Bahkan syeikh dan para Imam pun bisa salah. Pendapat mereka tidak boleh dijadikan hujjah ketika secara ilmiah telah terbukti bertentangan dengan dalil. Dan satu-satunya pendapat yang dibolehkan hanyalah yang berasal dari Allah dan RasulNya.

Ketiga : Bahwa salafy itu bukanlah pengakuan saja. Sekian banyak sekte menyimpang juga mengaku salafy. Orang Murjiah mengatakan kami adalah salafy, demikian juga orang Mu’tazilah, orang sufi, orang Khawarij, dll juga mengaku salafy. Bahkan ada pesantren yang paling sesat sekalipun yang mengajarkan sihir mengaku juga sebagai pesantren salafiyah. Namun benarkah mereka salafy? Bolehkah kita katakan bahwa mereka sebagai seorang salafy sebagaimana nisbat pada tempat di atas? Tentu jawabannya adalah tidak benar karena apa yang mereka ucapkan tanpa bukti dalam tindakannya.

Jika pengakuan bisa diterima tanpa bukti, niscaya pengakuan Yahudi dan Nasrani bahwa surga diwariskan untuk mereka saja lebih bisa kita terima.

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.” (AL Baqoroh : 111)

Namun tentunya pengakuan Yahudi dan Nasrani tidak bisa diterima karena tanpa bukti. Dan pembuktiannya dalam hal ini adalah siapa-siapa yang ittiba’ baik dalam aqidah, ibadah dan muamalah kepada Rasulullah, maka dialah seorang salafy. Banyak orang mengaku salafy tapi benarkah benar-benar mereka seorang salafy?

Banyak orang mencintai Laila, tapi apakah Laila cinta kepada mereka semua? Sesungguhnya yang dicintai Laila hanya satu. (pepatah Arab)

Pertanyaan lain : Kenapa kok ada salafi yang sukanya berbicara kasar, suka mencela, dsb?

Jawab :

Pertama : Jika memang dia seorang salafy tentunya otomatis dalam seluruh tingkah lakunya dia senantiasa untuk berusaha ittiba’ Rasulullah. Pertanyaannya : apakah benar bahwa Rasulullah selamanya lemah lembut? Pernahkah Rasulullah berkata kasar? Dalam sebuah riwayat Rasulullah mencela Khawarij sbb : “Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!”…“Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh…” (HR Ahmad, Al Jami’ush Shahih, 1/201).

Apakah perkataan anjing-anjing neraka bukan perkataan kasar? Bahkan sangat kasar. Jadi tidak selamanya kita harus lemah lembut. Juga tidak selamanya kita harus kasar. Kadang kita harus lemah lembut, kadang perlu kasar. Semuanya harus mempertimbangkan manfaat dan mafsadat. Tentunya kapan ucapan lembut dan kapan ucapan kasar itu boleh kita ucapkan adalah harus dengan ilmu. Inilah akhlak Rasulullah yang harus kita contoh karena beliau adalah suri teladan terbaik. Ada kalanya cukup dengan lemah lembut, namun adakalanya juga perlu bersikap kasar. Tergantung manfaat dan mudhorotnya.

Kedua : Jika ternyata orang yang mengaku pengikut salaf tersebut berkata kasar namun tidak pada tempatnya (tidak sesuai sunnah), maka hal itu adalah wajar juga karena mereka adalah manusia biasa juga yang kadang bisa salah dan kadang juga bisa benar. Mereka tidak maksum, karena hanya seorang tolabul ilm belaka. Bisa jadi ilmu perlunya lemah lembut belum sampai kepada mereka. Bisa jadi juga karena dalam otak mereka masih ada subhat yang menjadikan mereka kasar. Bisa jadi juga karena memang pembawaannya kasar. Bisa jadi karena saking semangatnya. Dan sekian penyebab lain. Kita doakan semoga yang demikian itu mendapatkan petunjuk.

Maka kewajiban bagi kita sebagai sesama muslim adalah mengingatkan mereka dengan cara yang lebih baik. Karena hadits :

“Agama itu adalah nasehat”, kami (para shahabat) berkata : “Bagi siapa ya Rasulullah?” (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) bersabda : “Bagi Allah dan bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi Imam-Imam kaum Muslimin, dan mereka (kaum Muslimin) pada umumnya.” (Imam Muslim (55) menyendiri dalam lafadz hadits hadits ini dari hadits Tamim Ad Dari).

Katanya salafy bukan golongan, tapi kenapa kok sering kumpul bareng di antara yang serupa (secara fisik dan pakaian) sesama mereka saja?

Jawab : Sebagaimana disebutkan diatas bahwa seorang salafy adalah orang yang berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti Al Qur’an dan Sunnah sebagaimana pemahaman para sahabat. Pertanyaannya : Bagaimana bisa tau bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya mempraktekkan Al Qur’an kalau tidak mencari tahu? Maka dari sini seorang salafyoon harus menuntut ilmu syar’i. Yaitu ilmu mengenai bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya mempraktekkan Al Qur’an. Kaidah ini akhirnya menjadikan para salafyoon gemar membaca kitab-kitabnya ulama yang menjelaskan bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya mempraktekkan Al Qur’an. Selain itu mereka juga gemar ke majlis majlis yang mengajarkan ilmu. Sehingga suatu hal yang sangat wajar saja jika kerap kita dapati di majlis-majlis yang mengajarkan ilmu banyak hadir orang-orang yang berpenampilan mirip-mirip (salafy) baik dalam berpakaian maupun berpenampilan kumpul-kumpul bareng sehingga seakan sebuah kelompok tertentu. Apakah dengan begitu berarti juga bahwa “kelompok” mereka itu hanya dikhususkan untuk mereka saja? Tidak. Bahkan kita dihimbau juga untuk bisa bergabung dengan mereka sama-sama duduk manis mendengarkan kajian-kajian yang mengajarkan ilmu syar’i. Insya Allah mereka akan menerima kita dengan tangan terbuka.

Sudah biasa di jaman para Imam mutaqoddimin di masa lalu dari umat ini jika disampaikan ilmu oleh para Imam tersebut, maka akan berbondong-bondongl ah para tolabul ilm dari seluruh pelosok negeri dengan antusias yang tinggi. Inilah salah satu karakter seorang salafy, gemar mencari ilmu.

Namun kalaupun terpaksa kita katakan kelompok, maka kelompok inilah yang disebut sebagai Firqotun Najiyah (golongan yang selamat). Penyebutan ahlussunnah, Ath Thaifah AL Mansurah, dan Al Firqotun Najiyah dengan ahlul hadits suatu hal yang masyur dan terkenal sejak generasi Salaf, karena penyebutan itu merupakan tuntunan nash dan sesuai dengan kondisi dan realita yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan sanad yang sohih dari para imam seperti : Abdullah Ibnul Mubarak, “Ali Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal, Al Bukhori, Ahmad bin Sinan, dan yang lainnnya. (Sunan At Tirmidzi Kitaabul Fitan 2229, Lihat Silsilatul Ahaadits Ash Shohihah Imam Muhammad Nashiruddin Al Albany (I/539 no 270) dan Ahlul Hadits Humuth Thaifah Al Manshurah karya Syeikh DR. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali.)

Kenapa terjadi perbedaan di kalangan salafi?

Jawab : Perbedaan di kalangan salafi ini harus diperinci. Jika perbedaannya adalah pada perkara ushul (pokok), maka hal itu tidak mungkin terjadi karena prinsip utama seorang salafi adalah diatas (manhaj Al Qur’an dan Sunnah sebagaimana pemahaman para sahabat). Jika dalam perkara ushul tersebut terjadi perbedaan, bisa dipastikan bahwa salah satunya adalah bukan salafi meskipun mengaku sebagai salafi.

Namun jika perbedaannya adalah perbedaan furu’ (cabang), maka hal itu bisa saja terjadi. Dan kewajiban seorang salafy adalah mengembalikan perbedaan itu kepada Al Qur’an dan Sunnah. Mana yang paling sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah maka itulah yang lebih layak untuk diikuti. Sebagaimana dalil :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisa : 65)

Namun kepada yang berbeda hendaknya tetap menghormati selama ulama yang berfatwa berbeda tersebut sama-sama dari ahlussunnah.

Benarkah bahwa dalam menuntut ilmu itu harus kepada ahlinya?

Jawab : ya itu memang sepenuhnya benar. Sebagaimana dalil :

“Jika suatu urusan (pekerjaan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR Bukhari)

Terlebih-lebih lagi dalam belajar agama harus benar benar kepada ahlinya yaitu mereka yang disebut para ulama. Sebut saja Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Hakim, Imam Madzab yang 4, Ibnu Hajar, Hasan Al Bashri, Ibnu Taimiyah, dll. Kitab-kitab mereka telah mashur di kalangan kaum muslimin sebagai kitab-kitab yang senantiasa menyeru kembali kepada sunnah Nabi Muhammad yang mulia. Disetiap zaman lisan lisan para ulama dan para ustad tidak henti-hentinya mengajarkan kepada umat ini kandungan ilmu yang ada di dalam kitab-kitab mereka. Siapakah ulama warasatul ambiya’ yang lebih alim dan faqih dalam agama ini melebihi mereka?

Kenapa orang-orang salafy biasanya masih kalah dalam hal gelar dengan yang selainnya?

Jawab : Karena memang agama seseorang tidak bisa dilihat dari gelarnya. Bahkan tidak jarang manusia telah terpedaya dengan gelar sehingga tujuan dia dalam belajar adalah bukan ilmu, melainkan gelar.

Gelar hanyalah menunjukkan status yang bersifat dunia belaka sebagaimana harta. Banyak orang yang merasa telah tertipu dengan keberadaan gelar ini. Kalau saja gelar menjadi faktor utama dalam belajar agama niscaya belajar ke Profesor-profesor kafir orientalis itu lebih tinggi kedudukannya daripada belajar kepada para ustad dan ulama kaum muslimin.

Sehingga tidak heran jika ustad ustad salafi tidak terlalu memperdulikan masalah gelar.

Wallahu a’lam

———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——

Mungkin ini sedikit wawasan tambahan dari saya yang masih bodoh dan masih belajar agama ini. Jika ada benarnya tak lain hal tersebut adalah petunjuk dari Allah belaka, namun jika salah saya mohon ampun kepadaNya sekaligus mohon agar ditunjukiNya kebenaran yang hakiki.

Terakhir… saya katakan bahwa apa yang saya sampaikan ini jangan ditelan mentah mentah. Demikian juga apa yang telah disampaikan oleh mereka yang berseberangan dengan yang saya sampaikan ini jangan ditelan mentah mentah juga. Bandingkan dalil-dalilnya secara ilmiah. Mana yang lebih ittiba’ Rasul maka ikuti itu. Benar kata ust. Sarwat, Lc, bahwa kita tidak perlu fanatik. Setiap orang bisa salah apakah murabbi kita atau kiyai kita, kecuali Rasulullah tentunya.

“Akan terus ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka hingga datangnya urusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian.” (Al Hadits)

1 Comment »

  1. mbarur said

    hehehe…….
    akhirnya upload juga… mantaaabbbbb…..
    mbak Dian… makasih banyak ya….
    Doakan bidadariku segera menerimaku….
    Amien.
    Miss u…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment